KANTATA TAKWA
Kantata Takwa merupakan film
dokumenter musikal Indonesia yang
dirilis pada tahun2008 arahan
sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa
yang
dibuat berdasarkan konserakbar proyek seni Kantata
Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun
1991. Film ini mengalami banyak kesulitan dalam pembuatannya karena sarat
dengan tema sosial politik dan
kritikannya yang sangat tajam pada sistem pemerintahan Orde Baru Indonesia
yang represif saat itu, sehingga
pembuatannya memakan waktu 18 tahun hingga dirilis. [1] Film
ini diputar secara premier di Indonesia mulai tanggal 26 September 2008 di Jakarta di
jaringan bioskop Indonesia Blitzmegaplex dan
kemudian dalam berbagai festival film internasional.Sinopsis
Film dibuka dengan adegan W.S. Rendra yang bermimpi tentang
orang-orang yang berlari dikejar sekelompok orang yang mengenakanmasker gas, bersepatu militer,
mengenakan jas hujan dan menenteng senjata api laras
panjang, seolah menggambarkan bagaimana represifnya situasi tersebut. "Aku
mendengar suara..... Jerit makhluk terluka.... luka... luka.... Orang-orang
harus dibangunkan... ", dilanjutkan alunan lagu "Kesaksian".
Kemudian W.S. Rendra membacakan syair panjang yang berisi kritik tajam
terhadap kondisi masyarakat dan pemerintahan.
Adegan demi adegan kemudian dibentuk oleh dialog / monolog teater dan puisi yang
disambung dengan lagu-lagu yang diambil dari album Kantata
Takwa dan Swami I dan dibalut dengan cuplikan-cuplikan konser
akbar "Kantata Takwa" tahun 1991 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Latar
berpindah dari sebuah pedesaan yang
damai ke pantai berpasir
dengan angin menderu yang mengibarkan jilbab dan selendang sekelompok
wanita, mengisi atmosfer dengan nuansa religius, ke latar
orang-orang teater yang menari dengan mengenakan topeng mengerikan,
kemudian sebuah adegan dialog antara Iwan Fals dan Sawung Jabo yang
duduk bersila membicarakan kehidupan.
Syair-syair W.S Rendra dan lagu-lagu dari "Kantata
Takwa" dan "Swami" menyertai adegan demi adegan dalam film ini,
diselingi dengan munculnya seorang tokoh wanita yang mengenakan busana jilbab (Clara Sinta Rendra), yang selalu hadir menjadi
saksi tanpa kata-kata. W.S. Rendra akhirnya diadili oleh hakim dengan
banyak wajah bertopeng, dan film
mencapai adegan klimaks dalameksekusi personel "Kantata" satu persatu oleh
pasukan bermasker, dimana Jockie Surjoprajogo tewas dipukuli di
rumahnya, Setiawan Djodi tewas dibekap dengan bantal saat
tidur, Sawung Jabo tewas ditembak di sebuah jalan buntu, dan Iwan Fals dieksekusi
dengan dicabut giginya satu
persatu. Film diakhiri dengan perlawanan orang-orang desa melawan pasukan
bermasker, hancurnya pasukan bermasker, dan ditutup dengan alunan lagu "Kesaksian".

0 komentar:
Posting Komentar