Film Iwan Fals (KANTATA TAKWA)

on Selasa, 19 Februari 2013
KANTATA TAKWA



Kantata Takwa merupakan film dokumenter musikal Indonesia yang dirilis pada tahun2008 arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa 
yang dibuat berdasarkan konserakbar proyek seni Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung KarnoJakarta, tahun 1991. Film ini mengalami banyak kesulitan dalam pembuatannya karena sarat dengan tema sosial politik dan kritikannya yang sangat tajam pada sistem pemerintahan Orde Baru Indonesia yang represif saat itu, sehingga pembuatannya memakan waktu 18 tahun hingga dirilis. [1] Film ini diputar secara premier di Indonesia mulai tanggal 26 September 2008 di Jakarta di jaringan bioskop Indonesia Blitzmegaplex dan kemudian dalam berbagai festival film internasional.

Sinopsis

Film ini adalah sebuah puisi kesaksian dari para seniman Indonesia tentang masa represifrezim
 Orde Baru Soeharto. Sebuah masa yang banyak diwarnai dengan korupsikolusi,nepotisme, dan banyaknya penangkapanpenculikan, bahkan pembunuhan para aktivis yang tidak memiliki ideologi yang sama dengan pemerintah penguasa saat itu. Termasuk dalam orang-orang tadi adalah W.S. Rendra, seorang penyair yang harus keluar-masuk penjarakarena karya-karyanya dianggap menyindir dan mengkritisi pemerintah. Seniman danpenyanyi Iwan FalsSawung JaboJockie Surjoprajogo, dan Setiawan Djodi yang sering menyuarakan keadaan sosial masyarakat Indonesia pada saat itu juga harus berhadapan dengan kemungkinan pencekalan oleh pemerintah penguasa. Suara kesaksian para seniman tersebut ditumpahkan dalam konser akbar mereka, sebuah pertunjukan seni "Kantata Takwa".
Film dibuka dengan adegan W.S. Rendra yang bermimpi tentang orang-orang yang berlari dikejar sekelompok orang yang mengenakanmasker gas, bersepatu militer, mengenakan jas hujan dan menenteng senjata api laras panjang, seolah menggambarkan bagaimana represifnya situasi tersebut. "Aku mendengar suara..... Jerit makhluk terluka.... luka... luka.... Orang-orang harus dibangunkan... ", dilanjutkan alunan lagu "Kesaksian". Kemudian W.S. Rendra membacakan syair panjang yang berisi kritik tajam terhadap kondisi masyarakat dan pemerintahan.
Adegan demi adegan kemudian dibentuk oleh dialog / monolog teater dan puisi yang disambung dengan lagu-lagu yang diambil dari album Kantata Takwa dan Swami I dan dibalut dengan cuplikan-cuplikan konser akbar "Kantata Takwa" tahun 1991 di Stadion Utama Gelora Bung KarnoJakarta. Latar berpindah dari sebuah pedesaan yang damai ke pantai berpasir dengan angin menderu yang mengibarkan jilbab dan selendang sekelompok wanita, mengisi atmosfer dengan nuansa religius, ke latar orang-orang teater yang menari dengan mengenakan topeng mengerikan, kemudian sebuah adegan dialog antara Iwan Fals dan Sawung Jabo yang duduk bersila membicarakan kehidupan.
Syair-syair W.S Rendra dan lagu-lagu dari "Kantata Takwa" dan "Swami" menyertai adegan demi adegan dalam film ini, diselingi dengan munculnya seorang tokoh wanita yang mengenakan busana jilbab (Clara Sinta Rendra), yang selalu hadir menjadi saksi tanpa kata-kata. W.S. Rendra akhirnya diadili oleh hakim dengan banyak wajah bertopeng, dan film mencapai adegan klimaks dalameksekusi personel "Kantata" satu persatu oleh pasukan bermasker, dimana Jockie Surjoprajogo tewas dipukuli di rumahnya, Setiawan Djodi tewas dibekap dengan bantal saat tidur, Sawung Jabo tewas ditembak di sebuah jalan buntu, dan Iwan Fals dieksekusi dengan dicabut giginya satu persatu. Film diakhiri dengan perlawanan orang-orang desa melawan pasukan bermasker, hancurnya pasukan bermasker, dan ditutup dengan alunan lagu "Kesaksian".



0 komentar:

Posting Komentar